Kalangan Mesjid Apresiasi Buletin Pos Khidmat Polresta Tangerang

IMG-20171027-WA0069

Buletin Pos Khidmat yang dirilis Polresta Tangerang mendapat apresiasi dari kalangan mesjid. Imam Mesjid Nurur Rohman KH. Tabroni Hasan mengatakan, buletin Pos Khidmat berisi ajakan baik yang sangat layak dibaca.

“Kami meyakini, setiap orang wajib menyampaikan sesuatu yang baik. Sampaikan walau satu ayat. Buletin Pos Khidmat adalah bentuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan menasihati dalam kesabaran,” kata KH. Tabroni Hasan usai kegiatan Pos Khidmat di Mesjid Nurur Rohman, Desa Telagasari, Kecamatan Cikupa, Jumat (27/10/17).

IMG-20171027-WA0070

KH. Tabroni melanjutkan, sinergi antar semua pihak adalah hal paling dibutuhkan saat ini. Tulisan dalam buletin Pos Khidmat, kata KH. Tabroni, mudah-mudahan memperkuat persatuan sehingga bisa bersama dalam iman dan aman dalam bingkai Kebhinekaan.

“Rasa aman dibutuhkan semua orang salah satunya agar bisa tenang saat beribadah. Dan, rasa aman itu bisa terwujud saat kita saling bisa memahami,” terangnya.

Hal senada disampaikan Purwanto, salah satu jemaah Mesjid Nurur Rohman. Pria yang berprofesi sebagai tukang ojek itu meminta agar buletin Pos Khidmat disebarkan ke seluruh mesjid.

“Buletin ini harus terus disebar untuk melawan buletin lain yang isinya keras dan cenderung radikal yang sampai sekarang masih ada di beberapa mesjid,” kata dia.

Purwanto menambahkan, buletin Pos Khidmat bisa menjadi kontra narasi dari propaganda kelompok radikal atau kelompok yang ingin mengubah ideologi negara. Bila tidak dilawan, kata dia, masyarakat bisa terpengaruh karena terus-terusan dicekoki buletin berisi hasutan terhadap pemerintah.

“Harusnya sebaran Buletin Pos Khidmat dilakukan di seluruh Indonesia oleh kepolisian. Agar masyarakat bisa tersadarkan dan memiliki bacaan yang berimbang,” tandasnya.

Kapolresta Tangerang AKBP H.M. Sabilul Alif mengaku akan konsisten melawan propaganda kelompok radikal melalui tulisan. Menurutnya, hal itu merupakan salah satu cara melawan agitasi kelompok radikal melalui pendekatan literasi dan intelektual.

“Kita jangan diam. Kita harus suarakan bahwa apa yang kelompok radikal lakukan sangat bertentangan dengan ajaran Islam dan tentu saja mengancam ideologi negara,” ujarnya.

Share This Post