Kernet Supir Otak Dari Pembunuhan Supir Truk Galon

 

 

Kasus penemuan mayat di dalam truk bernopol B 9516 NQC, di kolong jalan layang atau flyover Balaraja, Kabupaten Tangerang, Rabu (27/3/2019), terungkap sudah. Korban bernama Wildan Ari Aditia (26), ternyata dibunuh. Polisi berhasil menangkap otak tindak kriminal tersebut bersama empat orang lainnya.

Kepala Kepolisian Resor Kota Tangerang Komisaris Besar Polisi Muhammad Sabilul Alif mengatakan, pelaku utama pembunuhan Wildan yaitu Miftahudin, kernet salah satu perusahaan distributor air minum kemasan galon merek Aqua. Selain Miftah, polisi membekuk empat orang lainnya terdiri dari Heri, Saeful, Misbah, dan Euis. Kelima tersangka ditangkap di dalam waktu dan tempat berbeda.

Heri dan Saeful dibekuk di Depo Aqua Kramat Watu Serang, Rabu (27/3/2019) sekitar pukul 22.00 WIB atau beberapa jam setelah polisi menerima laporan penemuan mayat. Penangkapan Misbah dan Euis dilakukan di sebuah rumah kontrakan wilayah Kabupaten Bogor, Kamis (28/3/2019) sekitar pukul 20.00 WIB. Sementara Miftahudin di Hotel Alwani, Kabupaten Sukabumi, Kamis (28/3/2019) sekitar pukul 23.00 WIB.

Sabilul menyebutkan, empat tersangka selain Miftah memang tidak terlibat langsung dalam membunuh Wildan. Tetapi keempatnya mengetahui rencana pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan yang dilakukan Miftah dan meminta bagian hasil dari penjualan sebanyak 1.400 Aqua galon.

Miftah dan Wildan bekerja di satu perusahaan distributor Aqua galon. Keduanya pun selalu bersama saat mendistribusikan air mineral kemasan ternama itu. Wildan sebagai sopir truk, sementara Miftah adalah kernet.

Kasus perampokan hingga menghilangkan nyawa seseorang tersebut berawal saat Wildan bersama Miftah hendak mengantarkan air galon merek Aqua ke daerah Labuan, Kabupaten Pandeglang. Mengingat perjalanan jauh, sopir berinisiatif mengecek ban mobil saat tiba di jalur darurat Gerbang Tol Cikupa menuju arah Merak.

“Awalnya, tersangka MF (Miftahudin) merencanakan bersama-sama empat tersangka lainnya untuk mencuri Aqua galon dengan cara korban akan dibunuh terlebih dahulu. Setelah itu, uang hasil penjualan galon Aqua dibagi-bagi,” ujar Sabilul dalam konferensi pers di Mapolresta Tangerang, Tigaraksa, Kamis (4/4/2019).

Satu minggu kemudian, tepat pada Rabu (27/3/2019) malang dialami Wildan. Kala tengah mengecek ban truk, ia justru dipukuli menggunakan kunci roda mobil oleh Miftah dan langsung tidak sadarkan diri. Miftah kemudian mengangkat tubuh Wildan ke dalam truk. Di dalam mobil, Miftah kembali memukul bagian kepala dan mencekik leher Wildan hingga tidak bernyawa lagi.

“Saat berangkat ke daerah Labuan dan berhenti di pinggir tol, korban mengecek ban mobil. Setelah dalam keadaan lengah, korban dipukul di bagian kepala belakang oleh pelaku sebanyak 11 kali dengan kunci roda,” jelas Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Tangerang Ajun Komisaris Polisi Gogo Galesung.

Gogo mengungkapkan, selama ini kedua pekerja tersebut kerap melakukan penggelapan dengan menjual 5 hingga 10 Aqua galon tanpa sepengetahuan pemilik perusahaan. Namun tiap penjualan gelap, Wildan tidak berbagi hasil kepada Miftah. Sehingga ia pun merencanakan untuk menghabisi nyawa sang sopir.

“Jadi, motif pembunuhan ini dendam. Karena biasa mereka mengantar galon Aqua bersama-sama dijual lima atau sepuluh, mereka gelapkan tapi pelaku tidak pernah dibagi hasil,” tandas Gogo.

Setelah sopir mengembuskan napas terakhir, Miftah mengambil kendali truk. Ia mengemudikan mobil ke arah Rangkasbitung untuk menjual air minum kemasan galon. Setelah 1.400 Aqua galon terjual dengan harga Rp49 juta, Miftah kembali ke arah Tangerang dan meninggalkan truk yang di dalamnya masih ada jasad Wildan di kolong flyover Balaraja.

Ia kemudian pergi ke Ramayana Cikupa untuk berbelanja menggunakan uang penjualan Aqua galon. Usai berbelanja, Miftah memesan taksi online untuk tujuan Kabupaten Sukabumi. Di sana, ia membagikan sisa hasil kejahatan tersebut. Heri dan Saeful masing-masing kebagian Rp2 juta, sedangkan Misbah dan Euis masing-masing Rp2,2 juta.

Selain lima tersangka, polisi mengamankan sejumlah barang bukti di antaranya satu unit truk Hino bernopol B 9516 NQC berikut STNK, satu lembar surat jalan, sat buah kunci roda, satu buah plastik berwarna bening, uang tunai Rp7,5 juta, serta satu buah kalung emas. Para tersangka kini mendekam di hotel prodeo atau penjara tahanan Polresta Tangerang.

“Mereka disangkakan pasal 340 dan 365 KUHP, yaitu pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasan. Ancaman hukumannya penjara seumur hidup atau hukuman mati,” pungkas Gogo.

Share This Post

Post Comment